Sumber Daya Manusia Indonesia belum siap di Era Industri 4.0?

Semakin kesini, perindustrian di kancah nasional sedang berkembang dengan pesatnya.
Hal tersebut beriringan pula dengan perkembangan teknologi yang ada. Konsekuensi yang
diterima pastinya akan berpengaruh pada kualitas SDM yang dimiliki dari setiap perusahaan
yang ada. Akan dibutuhkan SDM yang jauh lebih baik, berkompeten dan pastinya penuh
inovasi untuk menghadapi tantangan era Industri 4.0.
Terlihat jelas bahwa ditahun 2017 hingga 2019, pemerintah sudah memulai pengembangan
secara besar-besaran untuk meningkatkan kompetensi SDM yang terdapat di Indonesia, salah
satu langkah yang diambil yaitu dengan membuat sistem kompetensi. Hal tersebut bertujuan
untuk mengurangi kesenjangan skill yang dimiliki antara lulusan pendidikan/pelatihan dengan
kebutuhan pada sektor industri di Indonesia. Para praktisi di Industri harus dapat terlibat
langsung dalam memberikan info berkaitan kebutuhan kompetensi yang ada pad bidangnya
masing-masing dalam bentuk SKKNI atau Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan
KKNI atau Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Hal tersebut ditindak lanjuti dengan
penyusunan program pendidikan atau pelatihan berbasis kompetensi untuk proses
pembelajaran pada lembaga pendidikan atau pelatihan dan Penyusunan skema sertifikasi untuk
proses uji kompetensi pada lembaga sertifikasi profesi (LSP). Maka diharapkan lulusan
lembaga pendidikan atau pelatihan akan sesuai dengan kebutuhan industri. Konsep dasar ini
dicetuskan berdasarkan perjanjian internasional layaknya MEA atau Masyarakat Ekonomi
Asean membuat standart untuk keluar masuknya tenaga kerja antar negara yaitu sertifikat
kompetensi, bukan ijazah lagi.
Secara garis besar langkah pemerintah tersebut cukuplah baik walaupun pada
prakteknya, pelatihan tersebut tidak dapat dirasakan atau diterima oleh generasi muda
Indonesia terutama bagi mereka yang terdapat di pelosok ataupun mereka yang tidak memiliki
dana untuk mengikuti program sertifikasi kompetensi tersebut karena beberapa lembaga terkait
mematok harga tersenderi untuk beberapa pelatihan kusus. Maka perlu adanya evaluasi secara
bertahap yang harus dilakukan beberapa pihak terkait agar program tersebut dapat berjalan
dengan baik dan jauh lebih bermanfaat kususnya dalam mencetak SDM yang berkualitas dan
berkompeten.

“Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja di sektor
industri akan naik lebih dari 8% sampai tahun 2035. Peningkatan ini tersebar pada seluruh
subsektor manufaktur, seperti industri makanan dan minuman (mamin), logam, tekstil dan
pakaian, serta otomotif.”.
Berdasarkan keterangan informasi tersebut, menjadikan tantangan lagi baik bagi
pemerintah dan juga rakyat sendiri selaku sumber daya manusia yang nantinya akan terlibat.
Menjadi point penting menurut saya yaitu kompetensi berbasis digital yang harus dimiliki oleh
setiap SDM yang ada karena dari berbagai macam sektor industri yang berkembang pastinya
akan selaras dengan perkembangan teknologi yang ada. Langkah tepat juga telah dilakukan
oleh pemerintah yang juga melibatkan beberapa instansi pendidikan yaitu dengan membuat
beberapa jurusan baru yang bersangkutan dengan perkembangan digital yang ada, serta
beberapa beasiswa digital talent yang dimana didalamnya, baik itu siswa ataupun mahasiswa
yang menerima bebas memilih delapan bidang pelatihan yaitu Artificial Intelligence, Big Data
Analitycs, Cyber Security, Machine Learning, Digital Policy & Cloud Computing, Internet of
Things, Programming & Coding, serta Graphic Design & Animation. Bilamana generasi muda
Indonesia dibekali kompetensi sedemikian rupa adanya maka hal tersebut mampu membuat
generasi kita bersaing lebih baik lagi dengan SDM yang berasal dari luar negeri.
Pengembangan akan lebih maksimal jika hal tersebut dapat dilakukan secara bersamaan
antara perusahaan – perusahaan terkait dengan pemerintah selaku pemangku kebijkan serta
bertanggung jawab juga untuk kesejahteraan rakyat. Kolaborasi tersebut jika dilakukan dengan
baik dan tepat pastinya sangatlah bermanfaat bagi kestabilan ekonomi nasional juga

pengembangan teknologi dalam negeri. Analasis yang dilakukan juga dapat dilakukan seluas-
luasnya untuk melihat tantangan yang ada dideapn serta melihat celah atau inovasi apa saja

yang dapat diambil agar dapat menghadapi tantangan tersebut.
Hal utama lainnya yang perlu diperhatikan untuk mempersiapkan SDM yang tangguh
dan berkompetensi yaitu kembali lagi pada mental setiap individu yang ada kususnya sebagai
rakyat Indonesia. Budaya malas, budaya meremehkan, budaya mencontek, budaya koruspi,
budaya instant, “budaya gegabah”, budaya konsumtif dan budaya jelek lainnya yang sangat
mempengaruhi mental SDM yang dimiliki oleh Indonesia untuk berkembang dengan baik dan
maksimal. Perlu adanya intropeksi dari masing-masing individu juga untuk mau maju dan
berkembang menjadi yang lebih baik dan unggul juga. Kelak nantinya karena bermula dari

kecil atau individu yang ada dahulu maka sebagai negarapun Indonesai juga kelak dapat
menjadi negara maju, negara yang mampu berkembang disetiap revolusi Industri yang terjadi.

Opini di tulis oleh : Giovani Benediktus Ridanto Wicaksono (20SB1027)

Mahasiswa prodi Bisnis Digital angkatan 2020 Universitas Amikom Purwokerto