Karya: Rr. Gina Kusumardani

Berdasarkan hasil observasi dari berbagai sumber informasi, saat ini kabarnya Bank Indonesia telah meramalkan perekonomian Indonesia akan mencapai peningkatan 5,2% lebih tinggi dibandingkan negara negara di Asia tenggara. Hal ini didukung oleh permintaan domestik dan komoditas yang lebih kuat. Kebutuhan ekonomi masyarakat Indonesia perlahan mulai membaik, dikarenakan pandemi yang sudah hampir tiada, juga karena adanya dari sisi permintaan, dan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh perbaikan kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga, investasi, serta penyerapan tenaga kerja pemerintah.

Menurut ramalan Oxford Economics pada 2022, Indonesia bisa mencapai angka 6% atau lebih tinggi dari proyeksi Pemerintah namun angka itu masih lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Malaysia dan Filipina. Meskipun tidak meningkat terlalu besar namun peningkatan ini tetap harus kita syukuri dan apresiasi.

Adanya pandemi membuat semuanya berubah. Kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bila tidak ada pandemi. Karena pandemi, banyak dana yang seharusnya dapat dialokasikan untuk menumbuhkan ekonomi, membantu UMKM, hingga kesejahteraan rakyat menjadi berpindah untuk dana vaksin dan lainnya.

Bank Indonesia menilai kebijakan moneter pada banyak negara telah gagal membendung perlambatan global, sehingga perlu berkoordinasi dengan Pemerintah sebagai pemilik kebijakan ekonomi yg berkaitan dengan pajak bersih, pajak ini digunakan sebagai biaya pengeluaran yg disebabkan oleh kegiatan pemerintah.

PPKM dan percepatan vaksinasi terhadap Covid-19 telah mendorong pemulihan ekonomi pada negara negara di Asia Tenggara. Bank Indonesia tersebut memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia bisa mencapai 6 persen tahun ini. Perkiraan tersebut lebih tinggi dari perkiraan pemerintah sebesar 5% hingga 5,5%.

Selain itu, Oxford Economics memperkirakan investasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan lebih cepat pulih seiring dengan meningkatnya investasi asing langsung. Ini mendukung upaya pemerintah yang tiada henti, terutama untuk menarik investasi. Pemerintah Indonesia membuka secara luas bagi siapapun yang ingin melakukan investasi.

Sebagai contoh, saat ini gula kelapa produksi Banyumas telah berhasil masuk pada pasar Spanyol. Dengan nilai yang tidak main main yaitu Rp 16 Miliar. Ekspor ini dapat terjadi karena adanya kerjasama dari pihak Perusahaan di Indonesia yang dibantu oleh Pemerintah dengan Perusahaan yang ada di Spanyol. Sebagai mahasiswa yang setiap hari berjibaku dengan berita tentang ekonomi, ada baiknya kita mencermati segala yang terjadi di lingkungan kita sendiri. Bisa jadi, apa yang ada bisa kita manfaatkan untuk bisnis. Komoditas ekspor yang unik juga menjadi pertimbangan karena setiap negara tentunya memiliki ciri khasnya sendiri.

Artikel ditulis oleh Rr. Gina Kusumardani, mahasiswa Bisnis Digital angkatan 2021 kelas A

Artikel disunting oleh Anisa Nur Andina, S.E., M.Si.